Bertahan hidup di #jalananJakarta – pascapencopetan

Pada 31 Desember lalu, hp saya dicopet ketika sedang berada di Kopaja yang sangat penuh. Blackberry saya hilang. Syukurlah saya aman, dompet dan semua isinya beserta kartunya aman, laptop juga aman.

Saya akan share lessons learned-nya, supaya teman-teman tidak mengalami kejadian yang sama.

  1. Jangan keluarkan hp ketika di kendaraan umum. Mencopet adalah gabungan dua skills: mengetahui di mana letak sasaran dan mengambilnya dengan cepat. Dengan kita mengeluarkan hp (dan benda berharga lain seperti dompet) dan kemudian meletakkannya kembali, kita memberi tahu si pencopet letak sasaran mereka. Siapkan uang ribuan di saku atau di bagian tas yang mudah diraih, sehingga kita akan membayar tidak perlu mengeluarkan dompet.
  2. This goes without saying bahwa kita harus selalu letakkan tas di bagian depan tubuh kita. Bukan di samping, apalagi di belakang. Hp saya bahkan dicopet dalam keadaan tas ransel saya berada di depan.
  3. Jangan berpikir ‘ah, itu tidak akan terjadi pada saya’. It could. Seumur hidup saya, baru 3 tahun saya hidup di Jakarta, dan sudah 3 hp hilang. Dua dicuri di kos-kosan beberapa tahun lalu, dan satu dicopet kemarin. Terkadang kita berpikir bahwa, ah itu si X kecopetan karena dia tidak berhati-hati. Mungkin benar, tapi pikiran seperti ini akan membuat kita lengah. Komplotan pencopet ini adalah jenius di bidangnya. Mereka bekerja dengan sangat halus.
  4. Stay alert ALL the time. Jarak antara saya masih memegang hp sampai saya turun dari Kopaja tidak sampai 30 detik. Ketika saya sadar resleting tas saya sudah terbuka dan hp sudah lenyap. Sama sekali tidak terasa. Mereka luar biasa cepat.
  5. Jangan paksakan diri untuk naik bila sudah sangat penuh. Kendaraan umum yang kosong memang menakutkan, tapi kendaraan umum yang sangat penuh adalah surga pencopet.

Continue reading

You are loved. And bullied.

Besok harus jadi hari terakhir kita berduka, kata seorang kawan. Ya! Mulai besok kita harus mengingat Aheng dengan senyum dan tawa, saya bertekad.

Maka, mari kita mengenang Aheng yang ceria, yang selalu penuh canda, dan yang tak pernah tampak sedang berduka. Bila Aheng sekarang melihat kita sedang berkubang air mata, barangkali Aheng akan tertawa-tawa saja dari atas sana.

Nama aslinya Hendra Aripin. Aheng biasa menertawakan kecinaannya sendiri. Bahkan ia sering memperkenalkan diri dengan, ‘Hai, gue Hendra, tapi karena gue cina, gue biasa dipanggil Aheng’. Nama Aheng ini melekat kuat. Bahkan, ketika Pak Anies Baswedan berkunjung ke rumah Aheng pun, beliau secara tak sadar terus-menerus menyebutkan nama Aheng, bukannya Hendra, di depan Ayahnya. Dan tidak ada yang berani mencolek Beliau untuk membenarkan, ‘Pak… Hendra, Pak… bukan Aheng’.

Suatu pagi kami para pengajar yang ditempatkan di Halmahera Selatan sedang mencari sarapan. Kami bersepuluh menyewa dua mobil. Mobil yang pertama langsung berhenti di tukang bubur kacang hijau pertama yang kami lihat, langsung memesan, dan mulai makan. Tiba-tiba mobil yang kedua melewati kami, dengan Aheng duduk di kursi penumpang depan, dengan jendela terbuka lebar, dan ia berteriak ‘Hoi! Mending ke tukang bubur kacang hijau yang di sana saja! Lebih enak!’. Kami semua hanya bisa berpandang-pandangan, lalu menunduk. Berharap kami tidak akan disiram kacang hijau oleh si Bapak penjual.

Aheng tak bisa berenang dan tak bisa naik sepeda, apalagi menyetir sepeda motor. Kata seorang kawan, mengejek Aheng, ‘life-skill lu minim banget, sih!’. Nah, kemarin sore ketika kami mendengar cerita dari Ayahnya bahwa Aheng sudah dikremasi, dan abunya disebar ke laut, seorang kawan lain berbisik, ‘wah, jangan-jangan Ayahnya lupa bahwa Aheng tidak bisa berenang’.

Sudah baca tulisan saya yang ‘Hidup adalah Perjalanan Pulang’? Nah, si gadis berkerudung yang saya sebut-sebut di tulisan itu, tadi menyapa.
Gue baca tulisanmu.‘Ia sering bercengkerama dengan gadis berkerudung yang kemudian menjadi kekasihnya’. Bercengkerama! Huahahaha. Ampuuuun Gusti. Bercengkerama itu seperti berhadap-hadapan sambil berpegangan tangan seakan dunia milik berdua.
Saya tertawa tertahan. Barangkali memang kita harus terus jalan, jalan terus.
Gue berat, ya?, tanyanya lagi.
Kekekeke. Sabar ya.
Senyum saya makin lebar.
Iya, lu tu berat tau! Ketika gue nulis itu, gue mikir: buset dah, berat banget sih lu. Diet napa? Tapi kemudian gue sadar, bahwa karena gue dipasangkan dengan gadis berkerudung yang berat dan hobi bercengkerama di sofa itu, artinya gue juga berat. Haiyah.

Aheng hobi membully temannya. Salah satu bully-nya yang terrekam abadi adalah coretannya di foto saya dan Edu –suami saya- yang kami jadikan ‘buku tamu’ dalam acara nikahan kami. Normalnya, para undangan menuliskan kata-kata yang indah dan ucapan selamat bahagia. Tapi Aheng bukan manusia normal. Tentu saja ia mengambil kesempatan untuk membully kami.
‘Edu, selamat menerima ‘beban’ dari Halsel. Dengan ini Ayu resmi kami serahkan. Aheng’.
Dan tulisan tangannya sungguh jelek. Susah sekali dibaca. Saya harus membaca berulang-ulang pesan itu, seperti berusaha memecahkan kode rahasia.

Jadi, janji ya teman-teman semua, mulai hari ini kita akan mengenang Aheng dengan senyum dan tawa.

Saya membayangkan, pasti sekarang Aheng sudah sampai di laut Maluku. Ia akan memeluk setiap anak di desanya yang sedang berenang bermain ombak, dan menguatkan mimpi mereka. Kata seorang sobat, ‘akhirnya sekarang Aheng bisa berenang bebas’.

Have a wonderful journey home, my friend. ‘Till we meet again.

You are loved. And bullied.

***

Hidup adalah Perjalanan Pulang

Hari ini terasa tak nyata. Seperti aku tak pernah terbangun dari mimpi, atau sedang gelisah karena tak kunjung tertidur. Entahlah.

Kami pertama bertemu dua tahun lalu, di sini: di tempat 51 anak muda menyatakan ikrarnya untuk mengajar selama setahun di ujung negeri.

Ia dulu masuk ke Teknik Sipil ITB karena alasan yang konyol: ia mengira bahwa sipil adalah kebalikan dari militer. Tapi barangkali memang ia seharusnya jauh-jauh dari militer. Ia tak bisa bedakan antara kanan dan kiri. Kacau sekali! Pernah satu kali ia pimpin peleton kami ketika sedang latihan fisik di Rindam, untuk berbaris menuju lokasi upacara bendera. Ia serukan pasukan untuk belok ke kanan, padahal ia sendiri belok ke kiri. Bertabrakanlah semua.

Interaksi pertama saya dan ia adalah ketika kami dipasangkan untuk menulis esai pendek, pada hari pertama pelatihan. Kami menuju sofa panjang di ruang tengah asrama, dan mulai menulis. Di sofa panjang itu pula lah, selama pelatihan yang tujuh minggu itu, ia sering bercengkerama dengan gadis pengajar berkerudung yang kelak menjadi kekasihnya.

Setiap pagi, setelah kami semua menyelesaikan lari empat kilometer, kami dipasangkan dengan rekan yang berat badannya sepadan, untuk latihan gendong-gendongan. Konon katanya, latihan ini berguna untuk melatih fisik kami, supaya kelak ketika di penempatan kami siap ketika harus membawa beban berat, atau bahkan bila kami harus membopong rekan yang cedera. Saya dipasangkan dengan si gadis pengajar berkerudung itu. Maka, ketika saya sedang memanggul gadis itu di atas punggung saya, dengan lutut goyah dan suara terengah saya bertanya, ‘jadi kalian serius?’. Ia tertawa kecil dan menjawab ‘ya’.

Ketika hampir usai masa pelatihan, ternyata saya akan ditempatkan di kabupaten yang sama dengannya: Halmahera Selatan.

Seluruh desa mengenalnya sebagai Pak Guru yang Tak Bisa Berenang. Padahal ia mengajar di desa di tepi pantai, yang mengharuskan ia naik perahu kayu kecil setiap kali ia akan pergi ke kota. Ombak laut Maluku seperti tertawa senang memainkan rasa takutnya sepanjang perjalanan. Pernah suatu ketika ia naik perahu yang di dalamnya juga ada seorang bayi. Ia ketakutan setengah mati, karena, menurutnya, bila perahunya terbalik, lebih besar kemungkinan orang di perahu untuk memilih menyelamatkan si bayi itu, sehingga lebih kecil kemungkinannya untuk diselamatkan. Untunglah, selama setahun ia bolak-balik naik perahu, tak pernah perahunya terbalik.

Murid-murid saya mengenalnya sebagai Pak Celana Robek. Ketika kami bersepuluh mampir ke desa saya, ia bermain-main dengan beberapa murid. Entah permainan apa yang sedang mereka lakukan, tiba-tiba anak-anak meledak tertawa sambil menunjuk-nunjuk celana coklatnya.

Kami mengenalnya sebagai manusia aneh yang luar biasa cerdas. Kami sering melihat ada tiga windows di laptopnya: ia mengetik, mendengarkan musik, dan menonton film pada saat yang bersamaan. Ia juga sering muncul dengan kaki yang berbalut belasan hansaplast, menutupi luka-luka kecil karena tergaruk setelah gatal dihajar nyamuk dan agas yang terkenal ganas. Kami juga mengenalnya sebagai pendonor film dan lagu hasil unduhannya. Ialah yang menularkan kegemaran menonton How I Met Your Mother pada seluruh pengajar Halmahera Selatan. Ia sejak awal sudah menduga bahwa Robin-lah yang menikah dengan Barney.

Kami juga mengenalnya sebagai rekan yang senang bercanda. Ketika saya menikah, saya meletakkan foto-foto saya dan Edu, suami saya, di meja depan, untuk ditandatangani oleh para tamu. Seluruh undangan menuliskan ucapan yang indah dan haru, kecuali satu:
“Edu, selamat menerima ‘beban’ dari Halsel… Dengan ini Ayu resmi kami serahkan”.

Beberapa bulan sepulang dari desa, ia jatuh sakit. Aneurysm, kata dokter. Meski lengannya disusupi jarum infus, ia tetap saja berisik berceloteh setiap kali kami mampir menjenguk. Sampai akhirnya keluarganya memutuskan untuk membawanya ke Malaysia untuk dioperasi. Harapan kami agar ia bisa segera kembali sehat dan pulang ke Indonesia beberapa kali tertunda: sebelum bulan puasa, atau ketika hari raya, atau setelah hari raya.

Maka ketika siang ini nama ‘kakaknya Aheng’ muncul di layar hp, saya sejenak lupa bernapas.

Sore harinya, sebuah sms dari nomor yang tak dikenal masuk, tapi saya langsung bisa mengenali diksinya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang memanggil saya dengan sebutan Ammah, yang artinya tante. Namanya Ziyada, 13 tahun. Anak perempuan cerdas yang dulu tinggal di Halmahera Selatan bersama kami semua.
“Ammah, titip salam ya dari aku kalau Ammah ke tempatnya Ammi Aheng. Bilangin selamat jalan. Terus, bilangin liat aku kalau aku dah sukses nanti ya, Ammah. Kan dari atas Ammi Aheng bisa lihat kita. Bilangin gitu ya, Mah. Ziya”

***

Setiap pengajar adalah pahlawan. Berpulangnya adalah gugur bunga. Harum di mata anak ajarnya (Anies Baswedan).

Sepanjang sore ini, saya merasa alam raya seperti berhenti sejenak. Menundukkan kepala dan melirihkan doa.

He is legend… wait for it… dary.

epic mom is epic

Mom selalu mendorong kami untuk keluar dari rumah. Keluar dari Indonesia.
Maka ketika saya berkata saya akan bekerja di Singapore, hidup sendiri, tidak kenal siapa-siapa, Mom dengan cool bilang, ‘great! when are you going?’.

Rasanya hampir tidak pernah Mom melarang saya dengan alasan ‘Mom khawatir, kamu kan anak perempuan’, apalagi menggunakan alasan ‘kenapa kamu jauh-jauh, Mom kan sendiri di rumah’. Tidak. Mom mendorong kami untuk pergi jauh. Melanglang buana. Menjelajah. Mengambil risiko.

Juga ketika saya berkata bahwa saya akan ikut Indonesia Mengajar dan mengajar di ujung Nusantara, yang juga berarti saya melepaskan pekerjaan saya sebagai manajer di perusahaan multinasional di Singapore, dengan gaji ribuan dolar, Mom, lagi-lagi, dengan cool bilang, ‘great! if you know what you’re doing and you’re sure about your choice, go ahead!’.

Dua hari yang lalu adik saya tiba di Jakarta.

Adik saya tahu apa yang ia suka sejak kecil: main game. Maka cita-citanya adalah bikin game. Masuklah ia di Ilmu Komputer UGM, dan diterima kerja di perusahaan game internasional, Gameloft. Semula ia akan ditempatkan di Jakarta, but he’s so good that akhirnya mereka memutuskan membuka kantor di Yogya dan adik saya diminta menangani kantor cabang itu. Dream job, very good salary.

Dan ketika beberapa tahun kemudian adik saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya, untuk bersama beberapa temannya memulai perusahaan game-nya sendiri, Imaginarium Game, saya khawatir. Saya yakin Mom juga pasti khawatir. Kenapa melepaskan pekerjaan yang enak dengan gaji besar? Tapi Mom dengan cool berkata, ‘if you’re sure with your choice, go ahead. Break a leg.’

Selama bertahun-tahun Mom mengajarkan untuk mengambil risiko. Mencari tahu apa yang kami tidak tahu. Menginjak tempat yang kami belum pernah ke sana. Dan berkali-kali pula Mom membuktikan bahwa ia membebaskan kami untuk mengambil keputusan kami sendiri, semenyeramkan apapun tampaknya. She walks the talk.

Epic Mom is epic. Pemberani luar biasa.

letters that changed my life – Indonesia Mengajar –

Another letter that changed my life is the acceptance letter from Indonesia Teaching Movement (Indonesia Mengajar), which then brought me to pack all my life in Singapore to be a primary school teacher for a year.

Here it is.

Jakarta, 23 Agustus 2010

Kepada Ayu Kartika Dewi
Di tempat

Saudari Ayu yang saya hormati,

Adalah suatu kebahagiaan bagi kami untuk memberitahukan Anda bahwa Anda terpilih menjadi Pengajar Muda untuk lndonesia Mengajar tahun 2010-2011. Setelah melewati beberapa tahap dan proses seleksi yang begitu ketat, kami percaya sebagai Pengajar Muda, Anda dapat memberikan inspirasi dan membagi pengetahuan bagi mereka yang membutuhkan di daerah tertuju.

Untuk langkah berikutnya, Anda akan dihubungi oleh tim lndonesia Mengajar mengenai penandatanganan kontrak sebagai Pengajar Muda. Apabila kontrak sudah ditandatangani, Anda akan memulai karantina pelatihan untuk pengajaran dan kepemimpinan selama 2 (dua) bulan, dimulai tanggal 19 September 20!0. Setelah selesai, anda sebagai akan langsung diberangkatkan ke lokasi penempatan di awal November 2010.

Apabila anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, silahkan menghubungi Evi Trisna melalui i email di ___ atau +62 ___

Kami tunggu kabar dari anda segera, dan sekali lagi selamat bergabung dengan gerakan lndonesia Mengajar!

Hikmat Hardono
Direktur Eksekutif

letters that changed my life – Indonesia Mengajar

The story is not complete without the letter that moved and convinced me to take the leap. And I’m glad I did it.

Surat untuk Anak-anak Muda Indonesia

Dari : Anies Baswedan
Hal : Indonesia Mengajar

Saya menulis khusus pada Anda dengan sebuah keyakinan bahwa kita bersama bisa saling dukung demi kemajuan republik dan bangsa kita. Saya yakin karena sejarah sudah membuktikan bahwa Republik ini berdiri, tumbuh, berkembang dan maju seperti sekarang karena ditopang oleh anak-anak muda yang tecerdaskan, tangguh dan energik seperti Anda.

Hari ini kondisi kita jauh lebih maju daripada saat kita menyatakan merdeka. Saat republik berdiri, angka buta huruf adalah 95%. Saya membayangkan betapa beratnya beban para pemimpin republik muda di waktu itu. Mereka harus menggerakan kemajuan dari nol, dari nol besar. Puluhan juta rakyatnya sanggup berjuang dalam revolusi kemerdekaan, tapi tidak sanggup menuliskan namanya sendiri. Hari ini melalui kerja kolektif seluruh bangsa, kita berhasil memutarbalikan hingga tinggal 8% yang buta huruf. Tidak banyak bangsa besar di dunia yang dalam waktu 60 tahun bisa berubah sedrastis ini.

Itu prestasi kolosal, dan kita boleh bangga. Tapi daftar masalah yang belum terselesaikan masih panjang. Melek huruf adalah langkah awal. Langkah berikutnya adalah akses yang merata, akses untuk setiap anak pada pendidikan berkualitas. Pendidikan berkualitas adalah kunci mengkonversi dari kemiskinan dan keterbelakangan menjadi kemajuan, menjadi bangsa yang cerdas, adil dan makmur.

Garda terdepan dalam soal pendidikan ini adalah guru. Di balik kompleksitas perdebatan yang rumit dan panjang soal sistem pendidikan, soal kurikulum, soal ujian dan semacamnya, berdiri para guru. Mereka bersahaja, berdiri di depan anak didiknya; mereka mendidik, merangsang dan menginspirasi. Dalam himpitan tekanan ekonomi, mereka hadir di hati anak-anak Indonesia. Hati mereka bergetar setiap melihat anak-anak itu menjadi orang di kemudian hari. Setiap ucapan terima kasih adalah tanda atas pahala guru-guru ini. Mereka adalah profesi terpercaya, pada pundak guru-guru ini kita titipkan persiapan masa depan republik ini.

Hari ini kita berhadapan dengan masalah: variasi kualitas guru dan distribusi guru. Menghadapi masalah ini kita bisa berkeluh kesah, menyalahkan negara dan menuding pemerintah. Atau kita gulungkan lengan baju dan berbuat sesuatu. Saya mengajak kita semua untuk turun tangan. Libatkan diri kita untuk mempersiapkan masa depan republik. Untuk kita, untuk masa depan anak-anak kita dan untuk melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saat ini saya dan banyak kawan seide sedang mengembangkan program Indonesia Mengajar, yaitu sebuah inisiatif dengan misi ganda: pertama, mengisi kekurangan guru berkualitas di Sekolah Dasar, khususnya di daerah terpencil; dan kedua menyiapkan lulusan perguruan tinggi untuk jadi pemimpin masa depan yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan kedekatan dengan rakyat kecil di pelosok negeri.

Kami mengundang putra-putri terbaik republik ini untuk menjadi Pengajar Muda, menjadi guru SD selama 1 tahun. Satu tahun berada di tengah-tengah rakyat di pelosok negeri, di tengah anak-anak bangsa yang kelak akan meneruskan sejarah republik ini. Satu tahun berada bersama anak-anak di dekat keindahan alam, di pesisir pulau-pulau kecil, di puncak-puncak pegunungan dan di lembah-lembah hijau yang membentang sepanjang khatulistiwa. Saya yakin pengalaman satu tahun ini akan menjadi bagian dari sejarah hidup yang tidak mungkin bisa Anda lupakan: desa terpencil dan anak-anak didik itu akan selalu menjadi bagian dari diri Anda.

Di desa-desa terpencil itu para Pengajar Muda akan menorehkan jejak, menitipkan pahala; bagi para siswa SD disana, alas kaki bisa jadi tidak ada, baju bisa jadi kumal dan ala kadarnya tapi mata mereka bisa berbinar karena kehadiran Anda. Anda hadir memberikan harapan. Anda hadir mendekatkan jarak mereka dengan pusat kemajuan. Anda hadir membuat anak-anak SD di pelosok negeri memiliki mimpi. Anda hadir membuat para orang-tua di desa-desa terpencil ingin memiliki anak yang terdidik seperti anda. Ya, ketertinggalan adalah baju mereka sekarang, tapi Anda hadir merangsang mereka untuk punya cita-cita, punya mimpi. Mimpi adalah energi mereka untuk meraih baju baru di masa depan. Kemajuan dan kemandirian adalah baju anak-anak di masa depan. Anda hadir disana, di desa mereka, Anda hadir membukakan pintu menuju masa depan yang jauh lebih baik.

Sebagai Pengajar Muda, Anda adalah role model, Anda menjadi sumber inspirasi. Kita semua yakin, mengajar itu adalah memberi inspirasi. Menggandakan semangat, menyebarkan harapan dan optimisme; hal-hal yang selama ini terlihat defisit di pelosok negeri ini.

Bukan hanya itu, selama 1 tahun para Pengajar Muda ini sebenarnya akan belajar. Pengalaman berada di pelosok Indonesia, tinggal di rumah rakyat kebanyakan, berinteraksi dekat dengan rakyat. Menghadapi tantangan mulai dari sekolah yang minim fasilitas, desa tanpa listrik, masyarakat yang jauh dari informasi sampai dengan kemiskinan yang merata; itu semua adalah wahana tempaan, itu pengembangan diri yang luar biasa. Anda dibenturkan dengan kenyataan republik ini. Anda ditantang untuk mengeluarkan seluruh potensi energi Anda untuk mendorong kemajuan. Satu tahun ini menjadi leadership training yang luar biasa. Sukses itu sering bukan karena berhasil meraih sesuatu, tetapi karena Anda berhasil menyelesaikan dan melampaui tantangan dan kesulitan. Setahun Anda berpeluang membekali diri sendiri dengan resep untuk sukses.

Apalagi, kita semua tahu bahwa: You are a leader only if you have follower. Keberhasilan Anda menjadi leader di hadapan anak-anak SD adalah pengalaman leadership yang kongkrit. Biarkan anak-anak itu memiliki Anda, mencintai Anda, menyerap ilmu Anda, mengambil inspirasi dari Anda. Anda mengajar selama setahun, tapi kehadiran Anda dalam hidup mereka adalah seumur hidup, dampak positifnya seumur hidup.

Sesudah satu tahun menjadi Pengajar Muda, Anda bisa meniti karir di berbagai bidang. Anda memulai karir dengan bobot pengalaman dan nilai kepemimpinan yang luar biasa. Saya sering tekankan: your high GPA will get you a job interview, but your leadership gets you the bright future. Setahun menjadi Pengajar Muda tidak akan membuat Anda terlambat dibandingkan kawan-kawan yang tidak menjadi Pengajar Muda. Perusahaan-perusahaan, institusi masyarakat dan lembaga pemerintahan semua akan memandang Anda sebagai anak-anak muda yang cerdas, berpengalaman, kreatif, berkepemimpinan kuat, konstruktif dan grounded. Mereka sangat mencari anak-anak muda seperti itu. Mereka akan membuka lebar pintunya bagi kehadiran Pengajar Muda.

Sejak awal bulan Juni 2010 Gerakan Indonesia Mengajar membuka peluang bagi bakat-bakat muda terbaik bangsa seperti Anda, dari berbagai disiplin ilmu dan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, untuk menjadi Pengajar Muda. Sarjana yang direkrut oleh Gerakan Indonesia Mengajar hanyalah best graduate, sarjana-sarjana terbaik: berprestasi akademik, berjiwa kepemimpinan, aktif bermasyarakat, kemampuan yang komunikasi baik.

Sebelum berangkat, Anda akan dibekali dengan pelatihan yang komplit sebagai bekal untuk mengajar, untuk hidup dan untuk berperan di pelosok negeri. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda akan mendapatkan gaji yang memadai dan kompetitif dibandingkan kawan Anda yang bekerja di sektor swasta. Anda akan dibekali dengan teknologi penunjang selama program dan jaringan yang luas untuk memilih karier sesudah selesai mengabdi sebagai Pengajar Muda. Selama menjadi Pengajar Muda, Anda tidak akan dibiarkan sendirian. Kami akan hadir dekat dengan Anda.

Seselesainya program ini, Anda meniti karier sebagai anak-anak terbaik bangsa. Dalam beberapa tahun kedepan, Anda menjadi garda terdepan Indonesia di era globalisasi baik di sektor swasta maupun publik. Kelak Anda menjadi pemimpin di bidang masing-masing dengan kompetensi kelas dunia dan ditopang pemahaman mendalam tentang bangsa sendiri. One day you become world class leader, but grounded and strong roots in the heart of the nation. Suatu saat mungkin Anda menjadi CEO, menjadi guru besar, menjadi pejabat tinggi atau yang lainnya, saat itu di posisi apapun, Anda selalu bisa mengatakan bahwa “Saya pernah hidup di desa terpencil dan mengabdi untuk bangsa ini”; hari ini kita bisa dengan mudah menghitung berapa banyak kalangan sipil yang sanggup mengatakan kalimat itu.

Di atas segalanya, program ini menawarkan kesempatan untuk setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi anak bangsa. Setahun menempa diri, seumur hidup memancarkan gelora kepemimpinan.

Saya menggugah, sekaligus menantang Anda. Saya mengajak Anda untuk bergabung bersama Indonesia Mengajar. Menjadi bagian dari ikatan untuk membangun Indonesia kita.

Salam hangat,
Anies Baswedan
anies.baswedan@indonesiamengajar.org

Letters that Changed My Life – SIF

Letters are exciting. We take it from the mailbox, rip open the envelopes, and read in excitement. Well, nowadays, we just need to click our inbox, click the email title, and read. There is no joy of ripping open the envelopes anymore, but the rush is still there. Especially if it is a decision letter that has a YES in it.

Today I reopened my old yahoo inbox, and found a letter from 2004 that changed my life. And I decided, hey, maybe it is fun to check all these YES emails! 🙂

This is a congratulations email from Singapore International Foundation, sent my Imran Hashim, which brought me to live in Singapore for 5 months.

Here it is.

Dear Ayu

Congratulations! Singapore International Foundation (SIF) is pleased tooffer you a place as an ASEAN Fellow on the SIF-ASEAN Student Fellowship2004. The Fellowship will commence on the week of 19 July and end in thefirst week of December (exact starting and ending dates to be confirmed).

The terms of theFellowship are as follows:

a) SIF will provide one return economy airfare from a city stipulated by SIF

b) SIF will assist you to enrol into the Singapore Management University(SMU). Acceptance to the university and courses will be subject to theapproval of the university. SIF will pay for the fees of up to threecourses which you have been accepted into. SIF also reserves the right toenrol you in another Singapore university should there be unforeseenchanges.

c) SIF will pay for the cost of accommodation at Evans Lodge for the period of the Fellowship.

d) SIF will provide you with a stipend which will be sufficient to cover the cost of food, local transport and other out-of-pocket expenses for theduration of the Fellowship.

This is a provisional offer. Kindly inform us of your decision to accept or reject this offer by Wednesday noon, 26 May 2004 at the latest. You can inform us either through email, or by faxing us a reply. My fax number is given below.

We look forward to hearing from you soon.

Best regards

Imran bin Hashim
Manager
Friends of Singapore Programme

In Malapascua with Gandhi – Why do I dive?

I’ve been getting lots of this kind of questions. Why do you dive? Well, the first reason that I frequently mention is that there is too many people live in the land already, so I guess someone just has to live underwater.

But every question is an interesting question. So I dug deeper and here are my top 3 reasons.

Reason #1 – I look beautiful in this diving outfit!
While most of the jobs usually require its people to dress up as attractive as necessary, we, scuba divers, dress as hilariously as possible. Continue reading

In Malapascua with Gandhi – Ryan

I fell in love when the first time I saw him. That shy smile.

I was walking along the white sand beach towards sunset, when I saw a humble wooden kiosk. I thought I would just drop by to buy some snacks and Milo, and then I saw him, a cute 9 month old baby boy clutching on to the store owner’s shoulder. Her second child. Oh, immediately I picked him from his mom’s arm, carried him, and started to play with him. Continue reading